Lembayung Senja

                                                                                 

Kehidupan manusia seperti berputarnya sang waktu, seperti beredarnya matahari, sehingga selayaknya juga belajar dari fenomena alam, agar dapat mendapatkan kebijakan untuk menjalani hidup itu sendiri.
Manusia baru lahir, seperti hari yang baru beranjak pagi, sinar matahari yang mulai temaram, layaknya seperti seorang bayi yang baru lahir, masuk kedunia ini dengan penuh harapan, namun tidak mengerti apakah harinya akan hujan ataukah akan cerah.
Manusia yang baru lahir, seperti kertas putih yang masih polos, masih belum tergores apapun, dan sangat ditentukan oleh apa yang akan tertulis dikertas putih itu.
Maka seharusnya dijaga dengan baik, dipersiapkan dengan bijaksana, agar yang tertulis nantinya adalah tentang kebajikan, kejujuran, dan segala yang baik.
Hari akan beranjak dari pagi ke siang, matahari mulai bersinar terang, ini menunjukkan manusia yang menjalani masa mudanya, seharusnya berjuang dengan gigih, seperti kuatnya sinar matahari itu.
Berjuang untuk mengisi kehidupannya, berjuang untuk mempersiapkan bekal hidup, berjuang untuk mencapai cita-citanya.
Dimasa ini, jangan sampai salah menentukan prinsip yang akan diperjuangkan, jangan sampai terjerumus dan jatuh dalam kubangan kehidupan.
Isilah masa ini dengan ilmu yang sangat dibutuhkan, mantapkan pengetahuan agama yang akan menjadi barometer kehidupan, revisilah fisik dan mental menuju kesempurnaan.
Menjelang tengah hari, seolah merupakan masa kematangan didalam kehidupan manusia, masa umur pertengahan ini, kehidupan seharusnya  sudah mantap, karier, pengetahuan, agama, ilmu, dll seharusnya sudah cukup matang.
Masa ini, janganlah cepat merasa puas, kalau kita merasa puas, akan segera mengalami kemunduran, seharusnya mulai banyak diisi oleh kegiatan yang lebih mengutamakan kesosialan, mulai bisa memikirkan orang lain, mulailah mengisi dengan banyak falsafah tentang kehidupan, mulai menemukan makna hidup, mulai mantap dalam bidang ilmu keagamaannya.
Benturan-benturan banyak dialami hingga mencapai usia ini, itulah pengalaman hidup yang seharusnya dijadikan guru yang sangat berharga.
Melalui pengalaman hidup kita baru bisa benar-benar memahami hidup itu sendiri.
Selewat siang, senja menjelang, matahari mulai redup, lembayung senja masih bersinar. Kehidupan manusia juga demikian, mulai memasuki usia senja, meskipun kemampuan fisik mulai berkurang, namun semangat hidup dan pancaran kebajikan seharusnya seperti lembayung senja yang bersinar.
Dimasa seperti ini, seseorang haruslah memancarkan kebijaksanaannya, memberikan kesejukan, menunjukkan kematangan jiwanya.
Dengan pengalaman hidup, dengan kemampuan ilmu, dengan kemapanan bidang keagamaan, seseorang seharusnya selalu bertindak bijaksana, tidak lagi mudah terombang ambing, bisa menyesuaikan diri lebih baik, dan selalu memancarkan kebajikan.
Kalau tidak demikian , maka orang tersebut akan terkucil dalam kehidupan ini. Kalau seseorang dimasa senjanya kurang bijaksana, susah menyesuaikan diri, masih tinggi sifat egonya, maka ia akan tersisihkan, akan merasa kesepian, hidupnya tidak akan bahagia.
Inilah masa untuk persiapan memasuki akhir kehidupan, kalau sudah mengerti apa arti hidup, kalau sudah mantap Taonya, kalau hidupnya penuh dengan kebahagiaan, maka memasuki masa itu akan dilewati dengan ketentraman bathin.
Seperti berganti baju, seperti berpindah tempat, dengan sukma yang sudah matang, dengan Buah Tao yang sudah sempurna, jadilah Dewa/i , semuanya berjalan sesuai dengan kodrat alam, sesuai dengan Tao.

Prahara Cinta Maya

                                                    
Saat aksaraku tak ber Abjad Tak Beraturan
aku hanya ingin menjadi Penulis Ilusi Hati
yang menghadirkan Fenomena Hati
dalam kidung Lembayungsenja Dalampelukan BintangLangit
hadirkan jiwa jiwa nan rindu pada Pelangi Surga Bunga Cinta yang ku ronceh hadirkan Bening Mutiara Aksara
mengalun di kerinduan secangkir kopi pagi ini





Prahara cinta maya
 
tak terlihat mata hanya aksara
walau kadang wajah disembunyikan
tapi mampu memainkan rasa




 Rerimbunan aksara bermain diotak ku
namun penaku tak akan ku tarikan hingga aku dapat rehat tubuhku dalam kesibukan nyataku




 Rindu semalam
 
ada manja semalam
ada canda semalam
ada cumbu semalam
mengalir begitu saja
terasa indah dalam sapamu

seakan kau beri ruang untuk semua itu
kecupan kecupan dan belaian mesra menghangatkan suasana malam yang dingin
kau peluk aku
kurebah dalam dada bidangmu
bercerita tentang semua alur cinta yang menyapa

aku merasa cinta ini nyata
kalau kusadari aku tak sepenuhnya milikmu
aku bermanja
aku belai mesra rasa ini dalam kidung kerinduan




 Rebahlah dalam sunyinya malam

Dan aku menyadari adamu dimayaku
seringnya saling sapa
timbullah rasa suka berakhir cinta

namun aku tak tahu
apakah ini cinta
sedang kau kuanggap sebagai sahabatku

semua berjalan tapi kenapa aku seakan berhenti saat sapamu tak singgahi hati

ingin kurebah didada bidangmu
agar ku tahu apakah kau cinta halal ku






Aksaraindahdalamalunanhati

 Kemuning Dilarik Langit Lembayungsenja

Kemuning Dilarik Langit Lembayungsenja

                                         
Jujur sebersit kecemburuan telah mencoret indah dilembar hati

adakah kau tahu banyak kumbang yang bertadah mendamba cintaku

namun ku akui pesona senja tlah membuat bunga kian merapal doa bahwa senja tidaklah cantik laksana pemujanya

ku telanjangi waktu yang tlah berlalu
endapkan kegundahan dan timbulkan mimpi mimpi tentang kita

kabut keegoan yang kian tebal
aku berbaring diatas ranjang dingin mengerucut selimut

meski dalam hatiku merindukanmu

biarlah ia akan kujadikan bunga tidurku

Dalam hamparan doa pagiku

                                                   
Ku tengok diluaran masih gelap
Lampu temaranpun lelah bersinar
Seakan meminta mentari tuk menggantikan
Laksana malam meninggalkan waktunya
Dan pagipun menyapa
Mulailah kehidupan
Diawal pagi seperti biasa rutinitas menanti
Namun ada doa dalam mengerjakan agar tetap dalam NaunganNya









 Share

KERINDUAN

                                                

Kesepian kadang memang sangat menyakitkan

Menoreh setiap senyum dan tawa,

Serta menciptakan riak anak sungai disudut mata,

Pedih dan sedih silih berganti kunjung mengunjungi

Pupus sgala harapan,
Melukai smua impian yang kadang memabukkan

Hingga jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan

Kala impian berbeda dengan kenyataan

Sepi semakin menggerogoti hari

Sendiri dan masih sendiri

Duhai belahan hati,
Entah dimanakah Mamas bersembunyi

Yovi nuno-Janji Suci